menata kejadian dalam bingkai tulisan kata-kata

tangkaplah kejadian, LALU IKATLAH DALAM TINTA KEABADIAN

Selasa, 01 November 2011

tentang hari ini


Pagi-pagi sekali, sudah disibukkan dengan pekerjaan semalam yang belum beres. Print out naskah, tanda tangan bahkan sampai penjilidan. Proposal pengajuan dana rehabilitasi secretariat HMI cabang mataram, seharusnya hari ini sudah rampung, karena hari ini juga rencananya akan dibawa ke Jakarta.
Entahlah, semalam sampai hampir jam dua dikerjakan.  Naskah proposal yang sudah di print out itu, masih ada beberapa bagian yang masih kurang dan perlu dikoreksi.
Aku dan tiga orang lainnya menghadap ke rumah salah satu orang senior. Dengan membawa kelengkapan proposal yang sudah jadi. Rasanya tidak ada lagi yang harus diperbaiki, tinggal dibubuhi tanda tangan ketua yayasan dan mengetahui KAHMI. apes, kenyataannya jauh diluar perkiraan. Proposal yang dibawa, masih banyak sekali kekurangannya. Lampiran photo copy rekening yayasan dan NPWP yang masih kurang jelas, profil yayasan masih banyak kekurangannya. Dan banyak sekali hal yang lainnya, sedang proposal seharusnya semalam sudah jadi.
“kita ini tidak serius berorganisasi, dari kemarin-kemarin seharusnya dikerjakan. Terus terang saya gak suka kalau sperti ini”. Bang ifin kedengarannya geram dengan keadaan itu. aku dan agi hanya bisa manggut-manggut terdiam. Sedangkan bang hamdan, malam itu segera mengambil tindakan meredam suasana.  Sepertinya, senior yang menyantap nangka, aku dan teman-teman kena getahnya.
Pagi-pagi sekali, bang hamdan sudah rapih. Mengajak keluar, aku atau agi yang harus ikut menghadap ke bang Ros (kepala bappeda NTB). Terdengar olehku perkataan bang hamdan dari dalam kamar, “ayo cepetan Gik, nanti kita sarapan disana aja, takut keburu beliau sudah keluar”. Heh, kepalaku masih pusing-pusing, rasanya mau nambah jam tidur lantaran semalam itu begadang hingga larut malam. Masih sadar dengan “anjuran tidak baik tidur diwaktu pagi”. Meski subuh-subuh tadi, kang Oni marah-marah bangunin. Masa?? Tanyaku sama agi yang sempat cerita setelah beberapa saat sekembalinya dirumah. Maklum sajalah, masih mengantuk.
Sembari duduk menyandarkan tubuh menghadap kearah timur. Mentari begitu gagahnya mengangkangi pagi. Apa tidak malu pagi-pagi masih terpaku didekat bantal guling? Sedang mentari menyaksikannya?. Ah, aku harus bereskan tempat tidur, bisikku dalam hati.
Apalagi yah/??/??/??/??/??/……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar