Tampaknya,
waktu ini berjalan tanpa terasa sudah mengantarkan kita berada pada penghujung
tahun 1430 hijriah. Itu pembuka tulisanku pada waktu itu. Dengan begitu artinya
menutup lembaran lama dengan memulai membuka lembaran baru. Penutupan lembaran
lama tidaklah menutup begitu saja tanpa ada yang harus dievaluasi demi perbaikan.
Hijriah
merupakan nama sebuah tahun islam yang ditandai dengan misi berpindahnya nabi
dari suatu tempat yang satu ketempat lain (dari mekkah ke madinah :qs annisa;100,dan
qs anfal;30) dengan rela meninggalkannya untuk menemukan dan memulai hidup baru
ditempat yang baru.
Aku
merasa latah dengan momen-momen setelah membaca tulisan itu. Setiap pergantian
tahun baru, serempak membahasnya, beramai-ramai membuka sejarah, secara
berjemaah mengadakan pertemuan jelang melepas tahun baru-jelang menyambut tahun
baru. Aneh saja. hijrah begitu tahun islam, oleh umat islam sendiri hanya ingat
ketika diujung dan diawal tahun saja. “kenapa tidak sekarang kita bahas tahun
Hijriah ini?”, aku tidak tahu yang disebutkan dengan “kita”, padahal sedang
sendirian.
Akhir
tahun hijriah kali ini tinggal menghitung bulan. Aku mungkin terburu-buru
membahas HIjriah, walau bukan itu maksud hati. Seperti pelajaran orang bijak,
menyesal itu selalu diakhir, bukan diawal atau ditengah-tengah. apapula maksudku
menyesal dini, padahal belum apa-apa.
Setelah
membuka-buka tulisan lama. Sekedar beranikan diri membacanya, karena awalnya
tidak pernah PE-DE sekedar membacanya. Hadeh!!!,
(mental macam mana yang bersarang dijiwa ini). Betul-betul malu membaca tulisan
sendiri, apalagi orang lain?.
Aku
ingat, tulisan itu, dibuat menjelang akhir dan awal tahun hijriah. Yah, istilah lainnya dalam rangka
menyambut tahun baru hijriah begitulah.Sembari kernyitkan kening membacanya,
aku tersentak. Terhempas di dinding-dinding malam.
“Hijrah dalam keterangan sejarah, pada
intinya adalah berpindah atau meninggalkan. Jika kita tarik lebih mendalam
lagi, makna berpindah atau meninggalkan bukan hanya perbuatan meninggalkan
kampung halaman sebagaimana yang dilakukan nabi SAW, tanpa harus dilandasi
semangat jihad. Bisa jadi ini merupakan sebuah bentuk perubahan yang ditandai
dengan bergesernya sesuatu dari bentuk yang tetap ke bentuk yang baru. Maka didalamnya
terdapat nilai-nilai pembelajaran. Yang mana tidak ada perubahan tanpa
pembelajaran. Perubahan yang dimaknai sebagai sebuah gejala yang dihasilkan
dari proses pembelajaran berarti adanya perubahan kearah perbaikan-perbaikan.
Mungkin saja berpindahnya nabi SAW sebagai bentuk meninggalkan sesuatu yang
dinilainya buruk.”
Menarik
nafas panjang, pikiran berkecamuk. Antara tidak percaya dengan tulisan sendiri
dan isi yang terkandung dalam tulisan itu. Tulisan itu seakan membawaku
bernostalgia jauh ke ruang masa lalu. Oh, Seperti itu rupanya yang aku pikirkan
dulu. Percaya tidak percaya, aku mendapatkan sesuatu yang begitu berharga,
nyaris saja terlupakan. “Andaikan aku tidak menulisnya dulu?”, hati kecil
bergumam. Nafasku terengus-engus kegirangan. Tampa sadar, senyumpun tersungging
dari kedua belah bibirku.
Lalu
kulanjutkan membaca.
“Berkaitan juga dengan “Long life learning”
yang merupakan sebuah konsep pembelajaran yang cukup lumrah terdengar. Hidup
ini tentunya harus dimaknai sebagai serangkaian proses pembelajaran. Setiap
detik yang terangkai menjadi menit dan terus menjadi jam, hari, minggu, bulan,
tahun dan seterusnya, merupakan serentetan waktu yang memiliki situasi dan
kondisi yang berbeda. Begitupun kita, sebagai manusia yang terikat dengan
waktu, tentunya perbaikan-perbaikan harus imbang seiring berhitungnya waktu
dengan kata lain, Hijrah khendaknya senantiasa dilakukan seirama dengan
bergantinya waktu. Waktu ini harus lebih baik dari waktu yang telah lewat,
begitulah petuah yang memang sudah lazim terdengar. Bukankah manusia itu
dikatakan sebagai orang yang merugi jika waktu yang lalu lebih buruk dari
waktunya yang kini?”
Aku
mulai melepaskan eufhoria. Terus memperhatikan setiap makna-makna dalam setiap
kalimat tulisan itu. geleng-gelengkan kepala, entah kenapa harus digelengkan. Semakin
tersudut diujung penyesalan. Untunglah, tahun ini masih tinggal beberapa bulan
lagi, jadi tidak perlu menyesal nantinya diakhir tahun. Apalagi bila
dirangkaikan dengan acara renungan akhir tahun. Mata kupejamkan agak lama. Lalu
aku lanjutkan membaca lagi.
“Keberadaan dari konsep evaluasi sebenarnya
terlahir dari kecendrungan manusia berbuat kesalahan-kesalahan. Evaluasi sebagai
ajang menyadari kesalahan tersebut, sehingga dengan evaluasi inilah muncul kesadaran
untuk memperbaikinya, dengan jalan memperbanyak istigfhfar terlebih dahulu.
Manusia dalam mengikuti proses hidup ini adalah dalam rangka menjadi (BECOMING),
menjadi lebih mendekati ciri-ciri dari manusia.”
Akhirnya
sampailah dibagian akhir dari tulisan itu.
“Sebagai penutup tulisan ini, yang mungkin
kurang dari standar minimal untuk disebut sebagai tulisan yang sederhana karena
karya dari sang penulis yang masih sangat pemula ini, saya mengajak kita semua
untuk sejenak merenungkan pertanyaan yang beberapa waktu yang lalu dikirimkan
oleh salah satu kaum “revolusi sunyi” lewat via sms yang mengatakan bahwa;
“sudahkah kita memiliki kemampuan untuk merasakan satu kesalahan kecil yang
telah diperbuat?”
Selamat tahun baru hijriah…”
Itu
dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar