menata kejadian dalam bingkai tulisan kata-kata

tangkaplah kejadian, LALU IKATLAH DALAM TINTA KEABADIAN

Selasa, 01 November 2011

tentang hijriah



Tampaknya, waktu ini berjalan tanpa terasa sudah mengantarkan kita berada pada penghujung tahun 1430 hijriah. Itu pembuka tulisanku pada waktu itu. Dengan begitu artinya menutup lembaran lama dengan memulai membuka lembaran baru. Penutupan lembaran lama tidaklah menutup begitu saja tanpa ada yang harus dievaluasi demi perbaikan.
Hijriah merupakan nama sebuah tahun islam yang ditandai dengan misi berpindahnya nabi dari suatu tempat yang satu ketempat lain (dari mekkah ke madinah :qs annisa;100,dan qs anfal;30) dengan rela meninggalkannya untuk menemukan dan memulai hidup baru ditempat yang baru.

Aku merasa latah dengan momen-momen setelah membaca tulisan itu. Setiap pergantian tahun baru, serempak membahasnya, beramai-ramai membuka sejarah, secara berjemaah mengadakan pertemuan jelang melepas tahun baru-jelang menyambut tahun baru. Aneh saja. hijrah begitu tahun islam, oleh umat islam sendiri hanya ingat ketika diujung dan diawal tahun saja. “kenapa tidak sekarang kita bahas tahun Hijriah ini?”, aku tidak tahu yang disebutkan dengan “kita”, padahal sedang sendirian.

Akhir tahun hijriah kali ini tinggal menghitung bulan. Aku mungkin terburu-buru membahas HIjriah, walau bukan itu maksud hati. Seperti pelajaran orang bijak, menyesal itu selalu diakhir, bukan diawal atau ditengah-tengah. apapula maksudku menyesal dini, padahal belum apa-apa.

Setelah membuka-buka tulisan lama. Sekedar beranikan diri membacanya, karena awalnya tidak pernah PE-DE sekedar membacanya. Hadeh!!!, (mental macam mana yang bersarang dijiwa ini). Betul-betul malu membaca tulisan sendiri, apalagi orang lain?.

Aku ingat, tulisan itu, dibuat menjelang akhir dan awal tahun hijriah. Yah, istilah lainnya dalam rangka menyambut tahun baru hijriah begitulah.Sembari kernyitkan kening membacanya, aku tersentak. Terhempas di dinding-dinding malam.

“Hijrah dalam keterangan sejarah, pada intinya adalah berpindah atau meninggalkan. Jika kita tarik lebih mendalam lagi, makna berpindah atau meninggalkan bukan hanya perbuatan meninggalkan kampung halaman sebagaimana yang dilakukan nabi SAW, tanpa harus dilandasi semangat jihad. Bisa jadi ini merupakan sebuah bentuk perubahan yang ditandai dengan bergesernya sesuatu dari bentuk yang tetap ke bentuk yang baru. Maka didalamnya terdapat nilai-nilai pembelajaran. Yang mana tidak ada perubahan tanpa pembelajaran. Perubahan yang dimaknai sebagai sebuah gejala yang dihasilkan dari proses pembelajaran berarti adanya perubahan kearah perbaikan-perbaikan. Mungkin saja berpindahnya nabi SAW sebagai bentuk meninggalkan sesuatu yang dinilainya buruk.”

Menarik nafas panjang, pikiran berkecamuk. Antara tidak percaya dengan tulisan sendiri dan isi yang terkandung dalam tulisan itu. Tulisan itu seakan membawaku bernostalgia jauh ke ruang masa lalu. Oh, Seperti itu rupanya yang aku pikirkan dulu. Percaya tidak percaya, aku mendapatkan sesuatu yang begitu berharga, nyaris saja terlupakan. “Andaikan aku tidak menulisnya dulu?”, hati kecil bergumam. Nafasku terengus-engus kegirangan. Tampa sadar, senyumpun tersungging dari kedua belah bibirku.
Lalu kulanjutkan membaca.

“Berkaitan juga dengan “Long life learning” yang merupakan sebuah konsep pembelajaran yang cukup lumrah terdengar. Hidup ini tentunya harus dimaknai sebagai serangkaian proses pembelajaran. Setiap detik yang terangkai menjadi menit dan terus menjadi jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya, merupakan serentetan waktu yang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda. Begitupun kita, sebagai manusia yang terikat dengan waktu, tentunya perbaikan-perbaikan harus imbang seiring berhitungnya waktu dengan kata lain, Hijrah khendaknya senantiasa dilakukan seirama dengan bergantinya waktu. Waktu ini harus lebih baik dari waktu yang telah lewat, begitulah petuah yang memang sudah lazim terdengar. Bukankah manusia itu dikatakan sebagai orang yang merugi jika waktu yang lalu lebih buruk dari waktunya yang kini?”

Aku mulai melepaskan eufhoria. Terus memperhatikan setiap makna-makna dalam setiap kalimat tulisan itu. geleng-gelengkan kepala, entah kenapa harus digelengkan. Semakin tersudut diujung penyesalan. Untunglah, tahun ini masih tinggal beberapa bulan lagi, jadi tidak perlu menyesal nantinya diakhir tahun. Apalagi bila dirangkaikan dengan acara renungan akhir tahun. Mata kupejamkan agak lama. Lalu aku lanjutkan membaca lagi.

“Keberadaan dari konsep evaluasi sebenarnya terlahir dari kecendrungan manusia berbuat kesalahan-kesalahan. Evaluasi sebagai ajang menyadari kesalahan tersebut, sehingga dengan evaluasi inilah muncul kesadaran untuk memperbaikinya, dengan jalan memperbanyak istigfhfar terlebih dahulu. Manusia dalam mengikuti proses hidup ini adalah dalam rangka menjadi (BECOMING), menjadi lebih mendekati ciri-ciri dari manusia.”

Akhirnya sampailah dibagian akhir dari tulisan itu.

“Sebagai penutup tulisan ini, yang mungkin kurang dari standar minimal untuk disebut sebagai tulisan yang sederhana karena karya dari sang penulis yang masih sangat pemula ini, saya mengajak kita semua untuk sejenak merenungkan pertanyaan yang beberapa waktu yang lalu dikirimkan oleh salah satu kaum “revolusi sunyi” lewat via sms yang mengatakan bahwa; “sudahkah kita memiliki kemampuan untuk merasakan satu kesalahan kecil yang telah diperbuat?”
Selamat tahun baru hijriah…”

Itu dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar