menata kejadian dalam bingkai tulisan kata-kata

tangkaplah kejadian, LALU IKATLAH DALAM TINTA KEABADIAN

Kamis, 03 November 2011

PERCAKAPAN DI FACEBOOK


Percakapan di facebook itu cukup menggelikan pikiranku. Sesekali pekikan tawa keluar dari mulut membuat kerumunan teman-teman yang sedang larut berdiskusi, bertanya-tanya ada apa gerangan. Tak seperti biasanya, kalau tertawa pasti karena ada guyonan atau cerita-cerita konyol yang selalu aku utarakan. Sesekali teman-teman bertanya, namun kuabaikan begitu saja seolah tidak mendengarkan apa-apa, karena ada sesuatu dan lain hal.
Memang sudah lama aku mengenalnya sekitar satu tahun yang lalu. Seorang perempuan dewasa yang sudah tujuh belas tahun usia pernikahannya. Tidak menyangka akan sedekat ini, padahal tidak pernah tahu seperti apa orangnya, apalagi alamat rumahnya dimana. Namun, menurut info di profil facebooknya, perempuan itu adalah seorang kepala sekolah disalah satu sekolah di kota Tangerang. Yah, dia berasal dari Tangerang dan aku dari Mataram, sedang jarak tempuh antara kedua daerah ini meski melewati banyak kabupaten dan beberapa provinsi bahkan menyeberangi dua selat. Facebook membuat jarak menjadi begitu dekat diujung jari, hanya butuh dipencet saja.
Entah, aku lupa apa yang membuat saling kenal dengannya. Awalnya memang dia selalu komentar setiap kali menuliskan status walaupun sudah larut malam. Pernah sampai saling kirimkan pesan lewat facebook. bercerita kalau merasa senang berkenalan denganku. Pemuda yang saat itu selalu menulis statusnya, tentang hujan yang turun tiap malamnya, mengundang kerinduan pada sang kekasih hati. Terbayang katanya, bagaimananya aku seorang pemuda sedang masa-masa indahnya, sedang dilanda asmara yang tergambar lewat status-status yang kutulis dulu. Barangkali itu yang membuat bisa kenal, begitu dekat padahal aku tidak pernah kenal sebelumnya.
Percakapan malam itu cukup dewasa pilihan temanya. Seputar bagaimana suasana berumah tangga yang sangat berat ujiannya. Sampai janji akan datang kalau aku nikah kelak. Meski perkiraannya tahun depan, karena kebetulan ada rencananya akan berkunjung ke Lombok tahun depan. Berdua dengan suaminya. Bukan perjalanan dinas atau kepentingan bisnis, namun berdua mau bulan madu.

“Berdua saja? nggak bawa ana-anak?” tanyaku penasaran.

Second honeymoon, yah berdua dong. Masa bawa anak-anak. Anak-anak waktunya lain” jawabnya mantab.

“Ahaiyyyy. Romantis juga yah”. Ledekku.

“Mencoba mempertahan apa yang ada Kez. 17 tahun perkawinan. Sulit. Banyak godaan. Terutama dari pihakku. Lagi mencoba untuk selalu berdua” tanggapnya mulai agak serius.


17 tahun. Bukanlah umur yang pendek pikirku. Mencoba meraba-raba betapa rasanya menjalankan pernikahan sampai bertahan sejauh itu. Karena tetangga di rumah saja baru beberapa bulan tengah berkeluarga, sekarang sudah cerai. Berkeluarga. Sepertinya bukan urusan yang sepele sesuai bayanganku. Perjuangan yang sarat pengorbanan apapun untuk bisa bertahan.

“Betul. Sayang kalo hancur. Boleh kasih saran. Jangan pernah hancurkan kepercayaan perempuan kez. Karena akan sulit untuk berjalan mulus lagi” lanjutnya lagi.

“Sepertinya sejalan dengan pikiran saya. Banyak belajar dari bunda dirumah” tanggapku sok tahu.

Rupanya dia juga banyak belajar dari Mamanya. Yang kesabarannya luar biasa. Disakiti sebegitu rupa, namun tetap bertahan. Sembari mengingatkan tentang bagian cerita dari novelnya yang pernah ia tulis. Itu adalah kisahnya dan Mamanya yang setia dan sangat tabah bertahan hingga meninggalnya. Itulah kenapa dirinya tidak pernah lepas dari pose tersenyum disaat berphoto. Karena itu adalah usahanya untuk selalu tersenyum. Mungkin semacam rumus ketabahan menghadapi segala cobaan yang mendera. Akupun sebenarnya cukup terkejut mendengarnya. mendapati seorang perempuan yang tidak pernah istirahat dan terus melaju dalam kehidupan, hingga dijuluki wonder women oleh teman-temannya.

Terkadang aku terlalu sok tahu terhadap orang. Padahal baru masih "berondong" yang masih sangat dini memperbincangkan tema tentang nikah. Jalan masih panjang dan perlu belajar banyak. Aku hanya ingat alasan istri Cak Anas yang begitu indah mengatakan nikah itu ibadah. Tidak mau ibadahnya terganggu hanya gara-gara mempermasalahkan hal-hal yang tidak wajar. Itu aja yang aku yakini sampai sekarang. Berkoar-koar ditengah-tengah teman-teman seoalah menikah itu mudah. Percakapan itu betul-betul menjadi teguran bagiku.