menata kejadian dalam bingkai tulisan kata-kata

tangkaplah kejadian, LALU IKATLAH DALAM TINTA KEABADIAN

Selasa, 01 November 2011

sebuah senyuman


Sebuah pepatah popular inggris mengatakan, “Mana mungkin aku membencinya padahal dia tersenyum padaku”. Demikianlah senyuman. Wajah tampak berseri-seri bila tersenyum. Karena tersenyum akan membuat siapa saja merasa senang mendapatinya. Hampir jarang ditemukan orang yang tidak senang melihat senyuman, kecuali bila orang tersebut tidak pernah tahu kalau tersenyum saja merupakan ibadah.
Pada tempo hari, saya pernah bertemu dan berpapasan dengan seorang ibu setengah baya di sebuah jalan dekat tempat tinggal sementara. Si ibu itu adalah seorang pedagang bakulan keliling yang menjual berbagai macam kebutuhan dapur rumah tangga, anggap saja demikian. Sepintas lalu, saya mendapatkan seorang ibu itu menyunggingkan sebuah senyuman. Entah, apakah karena harapannya agar dibeli atau tidak. Terlepas dari itu, yang menarik diceritakan disini adalah bahwa saya merasakan ketulusan senyuman seorang ibu itu sepanjang jalanan yang saya lalui, bahkan hingga kini masih berkesan. Senyumannya berkesan sekali walaupun saya tidak sampai membeli dagangan yang dibawanya. Pertemuan itu singkat tapi sangat berkesan dengan sebuah senyuman.
Senyuman, bisa saja menjadi penyakit bagi orang yang memberikan senyuman itu. Seperti dalam sebuah jejaring social facebook, seorang teman menulis disatusnya, menceritakan dirinya yang pernah tersenyum pada seseorang yang menurutnya special. Akan tetapi, dia hanya mengeluh sakit hati dengan bercaci-maki betapa senyumannya tidak dianggap oleh orang yang ia berikan senyuman. Kelihatannya, senyuman baginya harus dibalas sesuai dengan harapannya. Mengaharapkan pamrih dari orang yang disenyumkannya. Yah, jangan dipaksakanlah.
Ada pengalaman menarik juga ketika SMA dulu. Saya pernah jalan beriringan dengan beberapa kakak kelas menuju kantin saat jam istirahat sekolah. Dengan tidak ada kesengajaan, saya menginjak tumit sepatu salah satu dari mereka. Merasa bersalah, saya pun menyunggingkan sebuah senyuman kepadanya sembari meminta maaf karena tidak disengaja. Tapi malahan dia membentak-bentak saya, “eh kamu ini, cengengesan lagi”. Saya diangap demikian padahal saya hanya berusaha untuk memberikan senyuman setulus-tulusnya. Terbawa sampai dirumah, merasa geli dengan kejadian itu. Ada saja orang yang tertutup menerima sebuah senyuman. Tapi tidak ada rasa dendam kepada mereka, keyakinan saya pada waktu itu barangkali karena gengsi sebagai senior disekolah yang membuatnya tertutup untuk merasakan sebuah senyuman dari seorang junior.
“mana mungkin aku membencinya, padahal dia tersenyum padaku”. Barangkali ada benarnya. Ketika ada orang yang sakit hati karena senyumannya tidak diperhatikan, lalu mencaci-maki orangnya. Tapi bukanlah berarti yang diberikan senyuman itu membenci dirinya. Lantas perlu dipertegas lagi, kalau tersenyum jangan pilih-pilih orang.
Hal lain, ketika saya pernah tersenyum malah dibentak-bentak oleh senior pada waktu SMA dulu lantaran dengan tidak ada kesengajaan menginjak tumit sepatunya. Saya yakin, senior saya itu masih merasa gengsi sekedar tersenyum sama adik juniornya disekolah, atau istilah lainnya, khawatir kehilangan marwahnya sebagai seorang senior. Apalagi senyuman saya waktu itu termanis dari yang termanis, maklum takut juga sama senior. Andai saja waktu itu, senior saya tersenyum. Tidakkah hari ini, saya akan menceritakan betapa senyumannya?. Karena mana mungkin aku membencinya, padahal dia tersenyum padaku. (bukan berarti saya mendendam, tapi sampai sekarang, diam-diam saya masih membenci dirinya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar