menata kejadian dalam bingkai tulisan kata-kata

tangkaplah kejadian, LALU IKATLAH DALAM TINTA KEABADIAN

Senin, 11 April 2011

Hijriah dan Hijrah
Tampaknya, waktu ini berjalan tanpa terasa sudah mengantarkan kita berada pada penghujung tahun 1430 hijriah. Artinya kita akan menutup lembaran lama dengan memulai membuka lembaran baru. Penutupan lembaran lama tidak serta merta kita harus menutup begitu saja tanpa ada yang harus dievaluasi untuk diperbaiki.
Hijriah merupakan nama sebuah tahun islam yang ditandai dengan misi berpindahnya nabi dari suatu tempat yang satu ketempat lain (dari mekkah ke madinah :qs annisa;100,dan qs anfal;30) sehingga dengan rela meninggalkannya untuk menemukan dan memulai hidup baru ditempat yang baru.
Hijrah dalam keterangan diatas pada intinya adalah berpindah atau meninggalkan. Jika kita tarik lebih mendalam lagi, makna berpindah atau meninggalkan bukan hanya perbuatan meninggalkan kampung halaman sebagaimana yang dilakukan nabi SAW, tanpa harus dilandasi semangat jihad, bisa jadi ini merupakan sebuah bentuk perubahan yang ditandai dengan bergesernya sesuatu dari bentuk yang tetap ke bentuk yang baru, maka didalamnya dapat kita tarik nilai-nilai pembelajaran. Yang mana tidak ada perubahan tanpa pembelajaran. Perubahan yang dimaknai sebagai sebuah gejala yang dihasilkan dari proses pembelajaran berarti adanya perubahan kearah perbaikan-perbaikan. Mungkin saja berpindahnya nabi SAW sebagai bentuk meninggalkan sesuatu yang dinilainya buruk.
Berkaitan juga dengan “Long life learning” yang merupakan sebuah konsep pembelajaran yang cukup general. Hidup ini tentunya harus dimaknai sebagai serangkaian proses pembelajaran. Setiap detik yang terangkai menjadi menit dan terus menjadi jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya, merupakan serentetan waktu yang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda. Begitupun kita, sebagai manusia yang terikat dengan waktu, tentunya perbaikan-perbaikan harus imbang seiring berhitungnya waktu dengan kata lain, Hijrah khendaknya senantiasa dilakukan seirama dengan bergantinya waktu. Waktu ini harus lebih baik dari waktu yang telah lewat, begitulah petuah yang memang sudah lazim terdengar, bukankah manusia itu dikatakan sebagai orang yang merugi jika waktu yang lalu lebih buruk dari waktunya yang kini?
Keberadaan dari konsep evaluasi sebenarnya terlahir dari kecendrungan manusia berbuat kesalahan-kesalahan, untuk menyadari kesalahan tersebut, sehingga timbullah evaluasi sebagai bentuk kesadaran untuk memperbaikinya, dan bisa juga di dilakukan dengan memperbanyak istigfhfar. Manusia dalam mengikuti proses hidup ini adalah dalam rangka menjadi (BECOMING) untuk lebih mendekati ciri-ciri dari manusia.
Sebagai penutup tulisan ini, yang mungkin kurang dari standar minimal untuk disebut sebagai tulisan yang sederhana karena karya dari sang penulis yang masih sangat pemula ini, saya mengajak kita semua untuk sejenak merenungkan pertanyaan yang beberapa waktu yang lalu dikirimkan oleh salah satu senior kaum revolusi sunyi lewat via sms yang mengatakan bahwa; “sudahkah kita memiliki kemampuan untuk merasakan satu kesalahan kecil yang telah diperbuat?”
Selamat tahun baru hijriah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar